Paper Sosiologi Kehutanan Medan, 2 Oktober
2019
BUDAYA
SUKU DANI
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Hardidrah.
S
171201077
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan baik dan tepat waktu. Paper Sosiologi Kehutanan yang
berjudul “Budaya Suku
Dani” ini ditulis untuk melengkapi tugas Sosiologi Kehutanan
dan sebagai kajian tentang kegiatan upaya
mengetahui
Penulis
megucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen
penanggungjawab mata kuliah Sosiologi Kehutanan
yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan
penyelesaian paper ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
rekan-rekan di Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, yang telah
memberikan dorongan dan dukungan sehingga menambah semangat dalam penyusunan
paper ini.
Penulis
menyadari bahwa Paper Sosiologi Kehutanan
ini masih banyak kesalahan dalam penulisan. Oleh karena itu,
penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya. Penulis juga
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga
paper ini bisa memberikan manfaat bagi pembacanya.
Medan,
2 Oktober 2019
Penulis
i
|
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah............................................................................... 3
1.3 Tujuan................................................................................................. 3
1.3 Tujuan................................................................................................. 3
BAB II ISI
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 12
3.2 Saran................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
ii
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Yang melandasi
kebudayaan dalam masyarakat
yang paling umum diketahui oleh orang orang pada umumnya adalah kebiasaan,
kebiasaan yang sering kali dilakukan oleh masyarakat yag mempunyai adat
istiadat di daerah mereka ataupun dalam keluarga landasan sebuah kebudayaan
dapat dilihat juga dari cara orang berbicara ataupun berkomunikasi dengan orang
lain atau bisa di bilang interaksi antar masyarakat.
Pada umumnya
masyarakat kebudayaan adalah landasan bangsa yang tertinggi karena dan juga
jati diri bangsa tetapi kebudayaan
tersebut seringkali berubah dari waktu ke waktu seiring perubahan dan
perkembangan jaman, maka kebudayaan tersebut lama kelamaan dapat dimakan oleh
dunia yang semakin modern, maka masyarakat harus mempunyai kesadaran masing
masing agar dapat menjaga agar kebudayaan
dapat dijunjung dan dilestarikan agar kebudayaan yang dari dulu sudah ada tetap
dapat terjaga dan tetap menjadi sesuatu yang bisa di jadikan panutan oleh
generasi selanjutnya.
Manusia dalam kesehariannya tidak akan lepas dari
kebudayaan, karena manusia adalah pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri.
Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus
hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan
merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu
sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan
hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan.
Rasa saling menghormati dan menghargai akan tumbuh
apabila antar sesama manusia menjujung tinggi kebudayaan sebagai alat pemersatu
kehidupan, alat komunikasi antar sesama dan sebagai ciri khas suatu kelompok
masyarakat. Kebudayaan berperan penting bagi kehidupan manusia dan menjadi alat
untuk bersosialisasi dengan manusia yang lain dan pada akhirnya menjadi ciri
khas suatu kelompok manusia. Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan alat
sebagai jembatan yang menghubungkan dengan manusia yang lain yaitu kebudayaan.
Suku
Dani menjadi sorotan masyarakat luas. Hal ini dikarenakan pola kehidupan
berciri prasejarah tersebut masih dapat ditemukan pada masyarakat suku Dani
yang berada di lembah Baliem wilayah pegunungan tengah Papua. Kesan pertama
yang didapat dengan melihat keberadaan suku tersebut adalah suatu gambaran
kehidupan dengan corak budaya yang khas dan unik seperti pola hidup sederhana
dan mengelompok dalam perkampungan-perkampungan (silimo). Pola
hidup seperti itu merupakan salah satu wujud kebersamaan yang menjadi pusat perhatian
mereka, di sisi lain dapat juga disaksikan dalam berbagai aktivitas mereka seperti
dalam suatu pesta atau upacara-upacara adat dan bahkan dalam kegiatan membuka
dan mengerjakan kebun baru.
Berbicara
tentang masyarakat suku Dani, terdapat banyak hal menarik dari keberadaan
mereka, seperti berkaitan dengan sistem mata pencahariannya berupa kegiatan
bercocok tanam dengan sistem ladang berpindah dan menggunakan teknologi
peralatan yang sangat sederhana seperti penggunaan alat batu dan kayu. Pemanfaatan
teknologi peralatan tersebut mulai mengalami pergeseran seiring dengan
berjalannya waktu dan masuknya pengaruh asing, yang mana mereka diperkenalkan
beberapa jenis peralatan dari besi seperti sekop, kapak dan parang.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa saja kebudayaan
Suku Dani
2.
Bagaimana interaksi
dan struktur sosial Suku Dani?
3.
Bagaimana kelompok
sosial Suku Dani?
4.
Bagaimana nilai dan
norma sosial Suku Dani?
5.
Apa saja perubahan
sosial yang terjadi di Suku Dani?
1.2
Tujuan
1.
Untuk mengetahui kebudayaan
Suku Dani
2.
Untuk mengetahui interaksi
dan struktur sosial Suku Dani
3.
Untuk mengetahui kelompok
sosial Suku Dani.
4.
Untuk mengetahui nilai
dan norma sosial Suku Dani
5.
Untuk mengetahui perubahan
sosial yang terjadi di Suku Dani
BAB II
ISI
2.1 Kebudayaan
Suku Dani
Dani adalah salah satu dari sekian banyak suku
bangsa yang terdapat atau bermukim atau mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Papua,
Indonesia dan mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya serta sebagian
kabupaten Puncak Jaya. Suku Dani adalah sekelompok suku yang mendiami wilayah
Lembah Baliem di Pegunungan Tengah, Papua. Pemukiman mereka berada di antara
Bukit Ersberg dan Grasberg yang menyimpan kandungan emas, perak, dan tembaga.
Suku Dani dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan
telah menggunakan alat/perkakas yang pada awal mula ditemukan diketahui telah
mengenal teknologi penggunaan kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang
binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang
terkenal sangat kuat dan berat.
Mereka menggantungkan hidup dari alam dengan bercocok tanam sebagai
aktivitas utamanya. Setiap hari, Suku Dani menanam sayur mayur kemudian memanen
dan menjualnya ke pasar. Dari cara berpakaian pun, mereka masih banyak
mengenakan ''koteka'' (penutup kemaluan pria) yang terbuat dari kunden/labu
kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari rumput/serat dan
tinggal di “honai-honai” (gubuk yang beratapkan jerami/ilalang).
Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang suku masih dilaksanakan (walaupun
tidak sebesar sebelumnya).
Suku Dani Papua,
Perkampungan yang pertama kali diketahui di Lembah Baliem diperkirakan sekitar
ratusan tahun yang lalu.Banyak explorasi di dataran tinggi pedalaman Papua yang
dilakukan. Salah satu diantaranya yang pertama adalah Expedisi Lorentz pada
tahun 1909-1910 (Netherlands), tetapi mereka tidak beroperasi di Lembah Baliem.
Penggunaan
alat dari kayu masih tetap dipertahankan dan bahkan untuk beberapa wilayah yang
terisolasi masih memanfaatkan alat batu serta pengolahan lahannya pun masih
dilakukan secara tradisonal dan masih berpegang pada insting dan aturan-aturan
adat. Bercocoktanam bagi masyarakat Suku Dani merupakan mata pencaharian utama
yang bersifat subsistem yaitu untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dengan tanaman petatas
(hipere)
sebagai tanaman utamanya. Aktivitas bercocok tanam merupakan bagian yang sangat
penting bagi kaum perempuan, walaupun dalam pelaksanaannya ada pembagian tugas
yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Berdasar paparan tersebut, ada hal
yang menarik untuk diungkapkan yaitu bagaimana pengaruh budaya prasejarah pada
pola bercocoktanam masyarakat Suku Dani.
2.2 Interaksi dan Struktur
sosial Suku Dani
Masyarakat
Dani tidak mengenal konsep keluarga batih, di mana bapak, ibu, dan anak tinggal
dalam satu rumah. Mereka adalah masyarakat komunal. Maka jika rumah dipandang
sebagai suatu kesatuan fisik yang menampung aktivitas-aktivitas pribadi para
penghuninya, dalam masyarakat Dani unit rumah tersebut adalah sili. Sistem
kekerabatan masyarakat Dani ada tiga, yaitu kelompok kekerabatan, paroh
masyarakat, dan kelompok teritorial.
Gambar 1. Interaksi Sosial dalam
masyarakat Suku Dani
Kelompok
kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat suku Dani adalah keluarga luas.
Keluarga luas ini terdiri atas tiga atau dua keluarga inti bersama – sama
menghuni suatu kompleks perumahan yang ditutup pagar (lima). Paroh masyarakat. Struktur
masyarakat Dani merupakan gabungan beberapa ukul (klen kecil) yang disebut ukul
oak (klen besar). Kelompok
teritorial. Kesatuan teritorial yang terkecil dalam masyarakat suku bangsa Dani
adalah kompleks perumahan (uma) yang dihuni untuk kelompok keluarga luas yang
patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki).
2.3 Kelompok Sosial
Suku Dani
Budaya Suku dani dalam menjalani
hubungan bermasyarakat terbagi dalam beberapa sistem kekerabatan atau
kekeluargaan, berikut sistem kekerabatan suku dani, (1) Hubungan kekeluargaan
yang paling kecil meliputi sebuah perkumpulan yang terdiri dari dua sampai tiga
keluarga yang secara bersama-sama tinggal disebuah komplek yang ditutup dengan
menggunakan pagar bambu atau tanaman tanaman kering. Sistem ini biasa dinamaka klan
yang kecil (2) Hubungan antar suku dani yang
didalamnya terdapat beberapa kelompok ukul. Kelompok atau system ini
biasa disebut ukul oak atau ukul besar. (3) Hubungan territorial , yaitu suatu bentuk hubungan antar kekeluargaan
disuku dani, yang kesatuannya terdiri dari terirorial yang paling kecil suku
dani. Merupakan gabungan dari ukul besar / ukul oak yang diberi nama uma
kelompok atau kesatuan ini selalu dipimpin oleh laki-laki.
Sistem kekerabatan masyarakat
Dani ada tiga yaitu kelompok kekerabatan, paroh masyarakat, dan kelompok
teritorial. Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat suku Dani
adalah keluarga luas. Keluarga luas ini terdiri atas tiga atau dua keluarga
inti bersama-sama menghuni suatu kompleks perumahan yang ditutup pagar (lima).
Pernikahan orang Dani bersifat poligami diantaranya poligini. Keluarga batih
ini tinggal di satu-satuan tempat tinggal yang disebut siimo. Sebuah desa Dani
terdiri dari 3 & ndash; 4 slimo yang dihuni 8 & ndash; 10 keluarga.
Menurut mitologi suku Dani berasal dari keuturunan sepasang suami istri yang
menghuni suatu danau di sekitar kampung Maina di Lembah Baliem Selatan. Mereka
mempunyai anak bernama Woita dan Waro.
Orang Dani dilarang menikah
dengan kerabat suku Moety sehingga perkawinannya berprinsip eksogami Moety
(perkawinan Moety / dengan orang di luar Moety). Paroh masyarakat. Struktur
masyarakat Dani merupakan gabungan beberapa ukul (klen kecil) yang disebut ukul
oak (klen besar). Kelompok teritorial. Kesatuan teritorial yang terkecil dalam
masyarakat suku bangsa Dani adalah kompleks perumahan (uma) yang dihuni untuk
kelompok keluarga luas yang patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki).
2.4
Nilai dan Norma Sosial Suku Dani
Ada
faktor yang mempengaruhi
nilai-nilai kearifan tradisional masyarakat adat papua, yaitu Proses adaptasi
lingkungan yang memungkinkan manusia papua mengenal dan memahami sifat alam
sekitarnya. Berdasarkan pengalaman tersebut manusia papua mengembangkan
peralatan sebagai penyambung keterbatasan jasmaninya, memilih cara-cara yang
tepat untuk menanggapi tantangan yang mereka hadapi. Di samping itu, manusia
papua mulai mencoba menempatkan dirinya dalam jaringan kehidupan.
Pengembangan
kebudayaan masyarakat
papua berfikir secara perlambang. Dengan lambang-lambang yang dikembangkan dan
diberi makna yang kadang-kadang terlepas dari makna aslinya, manusia Papua
mencoba memahami lingkungannya dan mengatasi masalah yang timbul karena sikap
dan tingkah lakunya. Sebagai contoh gempa Nabire 2004. Gempa tersebut mendorong
masyarakat Papua bersikap dan bertindak secara beragam dalam menghadapi gejala
yang sama. Karena
kedua factor diatas manusia papua dapat menampung pengalamannya ke dalam system
pengetahuan yang menguasai cara berfikir dan bersikap masyarakat adat papua.
Tanggapan dari luar diwujudkan dalam keberhasilan manusia Papua mempertahankan
hidup dan mengembangkan generasi dengan mengembangkan peralatan dan cara
pengendaliannya. Sedangkan tanggapan ke dalam tercermin dalam system
pengetahuan sebagai kerangka acuan yang mewujudkan sikap dan pola tingkah laku
masyarakat adat Papua. Kedua proses adaptasi tersebut yang menjadi dasar
kearifan lingkungan sebagai kerangka acuan untuk memelihara stabilitas
keseimbangan mengenai kosmis.
Nilai-nilai kearifan lingkungan
hidup Papua antara lain: Nilai
kesatuan moral dengan alam, dimana kesatuan
antara moral dengan alam terungkap dalam pernyataan mereka “…terjadinya
sejumlah konflik pemanfaatan lahan di Papua adalah kekuatiran terhadap
pemanfaatan wilayah adatnya yang sacral yang dapat membawa berbagai bencana
alam seperti banjir, kekeringan, hama, kegagalan panen, tidak adanya hasil
tangkapan laut, dan sebagainya karena kesalahan sikap batin dan perilaku mereka
terhadap alam”, nilai
budaya tanah sebagai ibu, nilai
suku Dani sebagai pohon sumber suku besar Papua yang menerapkan tradisional
civil societ, dan nilai
jati diri suku besar Papua sebagai Pengawal Pusaka NKRI.
2.5
Perubahan Sosial Suku Dani
Banyaknya jaringan
hubungan keluarga dalam Suku Dani membuat perselisihan pun tidak dapat
terhindarkan. Perang antar klan, kampung, atau keluarga sangat sering terjadi.
Apalagi bila kita mengingat lagi bahwa Suku Dani adalah suku yang sangat gemar
berperang. Biasanya perselisihan ini disebabkan hal-hal perebutan tanah, perempuan,
dan pencurian hewan ternak yang berupa babi. Tidak jarang korban nyawa pun
melayang. Ketika masalah tidak dapat diselesaikan baik-baik, panah, tombak, dan
parang dapat menancap kapan pun ke tubuh musuh. Namun, di masa modern ini
mereka sudah mengenal sistem ganti rugi uang. Kini, perang sudah jarang terjadi
dan penyelesaian masalah pun dialihkan menjadi ganti rugi uang ke pihak yang
dirugikan.
Kehidupan Suku Dani tidak banyak mengalami
modernisasi. Banyak tradisi kuno yang masih mereka pertahankan hingga saat ini.
Pakaian, rumah adat, gaya hidup, bahkan bahasa asli pun masih mereka pergunakan
walau hal-hal modern telah mereka kenal. Suku Dani hingga kini masih memakai
koteka (penutup kemaluan pria yang terbuat dari umbi sejenis labu panjang) dan
para wanita pun lebih suka bertelanjang dada dalam kesehariannya. Mereka masih
tinggal di honai (rumah khas Suku Dani yang beratapkan jerami, berdinding
kayu dan berbentuk jamur).
Gambar 2. Budaya masyarakat yang masih dipertahankan
Suku Dani sangat
menarik untuk dipelajari. Banyak kearifan lokal yang akan kita dapat dari
kehidupan mereka. Memang hidup mereka masih jauh dari kata modern, namun dalam
beberapa hal, (misalnya cara mereka menghargai alam) Suku Dani jauh lebih bijak
dari kita yang sering mengaku berbudaya modern. Akhir kata, Suku Dani adalah
satu bukti nyata begitu kayanya budaya bangsa.
BAB
III
KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Dani adalah suku bangsa
yang terdapat atau bermukim atau mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Papua, Indonesia
dan mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya serta sebagian kabupaten Puncak
Jaya.
3.1.2 Struktur
masyarakat Dani merupakan gabungan beberapa ukul (klen kecil) yang disebut ukul
oak (klen besar)
3.1.3 Sistem kekerabatan masyarakat
Dani ada tiga yaitu kelompok kekerabatan, paroh masyarakat, dan kelompok
teritorial. Kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat suku Dani
adalah keluarga luas.
3.1.4 Nilai-nilai kearifan Suku Dani antara lain: nilai
kesatuan moral dengan alam, nilai
budaya tanah sebagai ibu, dan nilai
jati diri suku besar Papua sebagai Pengawal Pusaka NKRI.
3.1.5 Kehidupan Suku Dani tidak banyak
mengalami modernisasi. Pakaian, rumah adat, gaya hidup, bahkan bahasa asli pun
masih mereka pergunakan walau hal-hal modern telah mereka kenal.
3.2 Saran
Sebaiknya penulis dapat memuat literatur terbaru sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, diharapkan masyarakat dapat
meningkatkan literasi baca melalui paper tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimas, J. 2012.
Suku
Dani, Lembah Baliem, Papua.
Djami, E. N. I.
2009. Ciri Budaya Prasejarah pada Sistem Bercocoktanam Masyarakat Suku Dani di
Lembah Baliem (Balai Arkeologi Jayapura). Jurnal Papua. 1(2):69-82.
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/dani-sang-penghuni-dari-
lembah-baliem
Nahuway, N. I. 2014. Kehidupan Suku Dani Di Atas
Kulit Kayu Kombouw. Skripsi.
Purwanto, Y. 2013. Studi Etnoekologi Masyarakat Dani-Baliem dan Perubahan
Lingkungan Dilemb Ah B Aliem, Jayawijaya, Irian Jaya. Jurnal Berita Biologi. 6(5):662-678.
sangat membantu thanks
BalasHapusSangat membantu kak. Terimakasih informasinya 🙏
BalasHapusTrimaksih,, sangat membantu
BalasHapusPapernya keren. Informasinya sgt membantu
BalasHapusPapernya keren. Informasinya sgt membantu
BalasHapusKeren banget, sangat membantu juga
BalasHapusIsinya sangat menarik untuk dibahas
BalasHapusWahh,sangat bermanfaat sekali informasinya,terimakasih Author
BalasHapusBagus blognya dan disertai gambar yang mendukung
BalasHapusSungguh bermanfaat. Kira-kira apakah di zaman modernisasi ini budaya asli suku Dani masih dapat dipertahankan atau sudah ada yang berubah?
BalasHapusSejauh ini masih dipertahankan seperti penggunaan pakaian adat dalam kehidupan sehari-hari,seperti koteka. Selain itu budaya lainnya masih banyak yang dipertahankan
HapusIni salah satu contoh buat generasi muda biar dapat mempertahankan budaya masing-masing ya author..
HapusBetul sekali, terima kasih buat masukan dan sarannya Febrianta
HapusMEnambah wawasan khusunya bagi generasi muda
BalasHapusSuku Dani salah satu budaya bangsa yang mennunjukkan pribadi bangsa kita
BalasHapusinfornasinya sangat bermanfaat, mungkin desain boleh lebih dibuat menarik biar makin top
BalasHapusWaawww keren sekali, sangat bermanfaat jadi tau suku dani
BalasHapusMaksih infonya
Cocok buat bahan bacaan
BalasHapusBagaimana pranata sosial yg ada di suku dani?
BalasHapusPranata yg hampir terdapat di setiap bentuk masyarakat yaitu tempat tinggal yg masih dipertahankan yaitu di honai, sedangkan pranata khasnya wanita masih lebih senang bertelanjang dada dan pria hanya memakai koteka
HapusSangat membantu dan menambah wawasan tentang salah satu suku di Papua
BalasHapusTerimakasih untuk infonya